Devi Yusprianti

Sabtu, 23 Februari 2008

ANTARA SI JILBAB DAN SI TATTOO

Ada dua kejadian yang saya temui ketika saya akan berangkat ke tempat biasa saya menghabiskan waktu di siang hari. Dua kejadian dengan background 2 manusia yang berbeda dari segi fisik dan dari pengamatan saya pun dari sisi materi mereka pun bertolakan.

Saya mengkategorikan yang satu si kaya dengan keintelektualan yang keluar dari aura fisiknya. Dan yang satu lagi si tukang tambal ban bertato yang tampak hitam legam, kurus kering dan berwajah sangar. Tapi apa yang saya petik dari kedua mahluk Tuhan ini adalah sungguh kejadian luar biasa, yang membuat saya pun berfikir dibagian manakah saya selama ini?

Kejadian pertama adalah dengan bapak bertato yang menyeramkan. Kejadian tersebut kira2 tiga hari sebelum saya menuliskan cerita ini. Pada saat itu saya terharu dan tanpa sadar saya menitikan air mata. Tapi saya belum mau membahasnya sekarang, saya akan ceritakan pengalaman saya hari ini dengan si ibu berjilbab.

Siang ini, saya sedang dalam antrian di salah satu ATM di depan Alfa Mart, ketika mengantri, dari balik kaca saya lihat seorang anak kecil dan ibunya. Si anak sibuk menyenggol-nyenggol pinggul ibunya dengan pinggangnya sendiri, dan itu terus berulang sampai... Pikir saya alangkah bahagianya si ibu, dapat berbagi kesenangan dengan anak bagaikan teman sepermainan. Hal ini yang saya ingin sekali miliki, tak ada bentangan umur yang membatasi, tak ada batasan status orangtua dan anak, tapi apa hendak saya buat kalau saya masih merasa tidak seakrab yang saya inginkan ke anak2 saya sendiri.

Astagfirullah al’aziiim, lamunan saya tiba-tiba terusik ketika si ibu cantik tsb keluar dengan mencubit dan menginjak kaki anaknya, tidak keras memang, tapi terlihat anaknya menangis dan sakit hati. Dada saya bergemuruh, tenggorokan saya sakit. Si ibu cantik masih melanjutkan dengan menunjuk-nunjuk jari ke anaknya dan sayup-sayup saya dengar “ Nanti kamu pulang sendiri ya..., mama gak mau pulang sama kamu”. Sambil masih ditambah lagi dengan mendorong kepala anaknya. Mama, bagaimana kalau anakmu memang pulang sendiri dan di jalan dia tertabrak mobil? Karena si anak masih sangat kecil, mungkin seusia dengan anak saya yang no 2, kira-kira umur 5 tahun. Bagaimana kalau kejadian hari ini merupakan pupuk baginya untuk membencimu dikemudian hari? Di dalam kotak tempat mesin ATM saya teringat anak saya, teringat apa yang pernah saya lakukan, apakah yang saya lakukan melukai anak-anak saya jugakah?

Bagi saya ibu adalah guru terdekat bagi anaknya, anak adalah cerminan bagi ibunya. Cinta ibu bagi anaknya adalah sepanjang masa, ibu adalah tiang agama bagi anak2. Dan yang lebih dahsyat lagi seperti kita ketahui semua “SURGA ADA DI TELAPAK KAKI IBU”.

Rasulullah saw. sangat penyayang terhadap anak-anak, baik terhadap keturunan beliau sendiri ataupun anak orang lain. Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah saw. mencium Hasan bin Ali dan didekatnya ada Al-Aqra’ bin Hayis At-Tamimi sedang duduk. Ia kemudian berkata, “Aku memiliki sepuluh orang anak dan tidak pernah aku mencium seorang pun dari mereka.” Rasulullah saw. segera memandang kepadanya dan berkata, “Man laa yarham laa yurham, barangsiapa yang tidak mengasihi, maka ia tidak akan dikasihi.” (HR. Bukhari di Kitab Adab, hadits nomor 5538).

Lalu marah ke siapakah kita ketika anak kita, seperti anak si ibu tsb, memukul, menendang dan menghujat tukang parkir (ketika tukang parkir alfa mart tersenyum dan mencoba menenangkannya) persis seperti apa yang dilakukan ibunya terhadap dia. Secepat itu anak-anak kita mengadaptasi apa yang kita lakukan. Subhanallah saya takut menjadi seorang ibu, apakah tabiat anak2 kita yang buruk juga cerminan perlakuan kita terhadap mereka? Astagfirulllah al’aziim, astagfirullah al’aziim, astagfirullah al’aziim.

Saya lanjutkan dengan cerita yang pertama. Hari itu saya di dalam mikrolet 44 jurusan karet. Banyak penumpang turun naik, salah satunya di kuningan di depan tukang tambal ban ada anak sekolah dan disampingnya seorang bapak yang bertelanjang dada. Ketika mikrolet berhenti di depan mereka, si anak yang kira-kira kls 5 mungkin 6 SD mencium tangan bapaknya dan si bapak pun dengan lembut mengusap rambut anaknya sambil berkata " hati-hati di jalan ya nak, tengok kanan kiri, belajar yang bener". Dan si anakpun naik mikrolet dengan dilepas rasa sayang oleh bapaknya. Alangkah nikmatnya menjadi seorang anak ketika rasa sayang, rasa cinta orangtua terlihat langsung menemani aktifitas dan tumbuhnya si anak. Yang saya tidak percaya dengan pandangan mata saya adalah si bapak yang sangat santun terhadap anaknya tersebut adalah si bapak yang tidak memakai baju (mungkin karena panas duduk dipinggir jalan menunggu orang yang mau menambal ban), yang tangan kiri dan kanannya di penuhi tato, yang tampangnya sangar tapi masih memiliki kata-kata indah yang walaupun ringan, tapi saya sangat yakin hal tersebut membuat anaknya nyaman dan tenang berangkat ke sekolah.

Saya pernah membaca di sebuah majalah (saya lupa majalahnya) bahwa di malaysia ada narapidana yang divonis hukuman mati ketika di tanya apa permintaan terakhirnya, si narapidana berkata bahwa dia ingin berjumpa dengan ibunya, maka didatangkanlah si ibu. Dengan bertangis-tangisan keduanya saling berpelukan. Dan si anak berkata kepada ibunya, ingin mencium lidah ibunya untuk terakhir kali sebagai baktinya kepada ibunya. Diizinkan pulalah oleh ibunya. Tapi apa dinyana, ketika ibunya menjulurkan lidahnya, tiba-tiba si narapidana yang akan terkena hukuman mati tersebut menggigit lidah ibunya. Sungguh tidak disangka. Dalam pembelaannya dia berkata bahwa ibunya tidak pernah menggunakan lidahnya untuk mengeluarkan kata-kata yang bijak ketika si anak kecil. Ibunya tidak pernah melarangnya melakukan kejahatan-kejahatan kecil sewaktu dia masih kecil.
Lidah ibunya tidak pernah digunakan untuk mengatakan kata-kata cintanya kepada si anak. Maka tumbuhlah si anak menjadi penjahat kelas kakap yang sebentar lagi akan menerima hukuman mati. Si narapidanapun berkata pula bahwa ibunya pun pantas dihukum karena dialah yang telah membentuknya menjadi penjahat seperti itu. Astagfirullah al'aziim...

Kita sebagai ibu tidak pernah punya pilihan untuk tidak mengurus anak kita, untuk tidak membimbingnya, untuk tidak menyayanginya. Semua harus kita lakukan tanpa pilihan. Hikmah yang saya petik dari kejadian di atas adalah bahwa sebagai orangtua terutama sebagai ibu, pilihan kita adalah :

1. Sebagai ibu yang terbelenggu dengan keadaan. Kita marah dengan anak kita ketika uang yang kita terima dari suami tidak memenuhi standar minimum UPS (uang pemberian suami), kita marah kepada anak-anak kita ketika suami mulai melirik wanita idaman yang lain. Kita bahkan marah kepada anak2 kita pula ketika cucian gak kering2, setrikaan rusak dan sebagainya. Ibu tipe ini bawaannya maraaah aja, dan kemarahan itu harus dikeluarkan, katanya biar gak “gondok” terus. Kasihan si anak....
2. Sebagai ibu yang dapat menyiasati keadaan. Ibu tipe ini lebih dapat meredam, menyiasati kekesalan-kekesalannya, dengan tidak melampiaskannya langsung kepada anak-anaknya secara fisik. Tapi dia menjalaninya dengan "tidak" ikhlas, karena dalam merawat, mendidik anak-anaknya masih disertai dengan menggerutu bahwa kalau aja si suami gak begini, kalau aja si suami gak begitu, ada aja yang dia komplain yang bikin dia tambah jago nyanyi, alias ngedumel mulu.
3. Sebagai ibu yang merdeka. Walaupun suaminya kasar terhadapnya, walaupun si anak nyebelinnya minta ampun tapi si ibu tipe ini selalu dapat meredam kemarahannya hanya untuk dirinya saja. Dia tidak melampiaskan kesalahan suaminya kepada anak-anaknya. Dan dia dengan ikhlas mendidik dan merawat anak-anaknya dengan senyum ketulusan, dan dengan kata-kata bijaknya. Dan dia akan selalu menjadi bidadari untuk suami dan anak-anaknya. Amin

Jadi marilah kita lihat diri kita apakah pilihan kita tidak menyakiti orang lain, terutama anak-anak kita?

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda